MERANTAU

14.59







Topiknya agak berat kali ini. Betapa tidak, kalau ingat-ingat penempatan aku hampir selalu menitikkan air mata. Kenapa? Sedih? Nggak juga. Takut? Nggak. Gak tau sedih aja. Mungkin karena aku dari awal sudah berharap akan kembali ke daerah, akan tetapi seiring berjalannya waktu, constraint-constraint itu pasti ada :)

Well. Pelajaran penting. Jangan pernah berharap. Lakukan saja yang terbaik yang kamu bisa. Apapun hasilnya sudah pasti yang sudah kita upayakan semaksimal mungkin.

Memutar kembali waktu dimana aku memutuskan untuk tidak lagi mengenyam pendidikan di kota kecilku, aku mulai mencari informasi sekolah yang bagus di luar kota. Tentunya tidak terpikirkan untuk merantau ke tanah Jawa. Saudara-saudara mbah disana sudah pasti tidak kenal dengan aku. Tetapi Allah berkata lain. Ia takdirkan aku merantau ke Magelang. Bertemu dengan teman-teman seluruh Nusantara. Waktu itu usiaku hampir menginjak lima belas tahun. Cukup dini untuk memulai merantau di tanah orang. Kadang-kadang aku sering menangis. Apa yang kutangisi? Betapa orangtuaku bersusah payah agar aku bisa bersekolah di kampung halaman orang. Mengantarku dari satu tempat ke tempat lain dengan armada yang ada. Entah itu kendaraan roda dua atau hanya bisa antarkota yang pada saat itu belum senyaman saat ini :)


Masih kuingat, pada waktu itu papahku belum benar-benar merestui. Ia hanya sekadar mengantar tanpa terlihat keberpihakannya pada percobaanku mengikuti tes kala itu. Ibukota provinsi memang tak jauh dari kotaku. Pada saat itu papah mengantarku dengan motor Supra-Fit nya. Masih kuingat jelas betapa panas menusuk di siang bolong kala kupakai celana hitam untuk menerjang jarak Metro-Bandarlampung untuk mengikuti tes psikologi untuk seleksi masuk SMA TN. Seusai tes hujan turun dengan deras. Mungkin kalau diingat-ingat pada saat itu aku sedang menggerutu karena sudah pasti kerepotan karena harus berteduh, basah kuyup, dan harus melanjutkan perjalanan pulang yang memakan waktu lebih dari 1jam dan duduk dengan posisi yang sama di belakang papah dan selalu mampir di rumah makan padang yang hampir buatku bosan karena tidak ada variasi tempat makan yang lain :")

Tetapi kini aku bersyukur, momen-mvomen itu patut kukenang hingga sekarang. Bahkan ketika motivasiku berada di level terendah, kenangan itu mampu terekam dan menjadi cambuk bagiku. Mamah juga tak kalah hebat. Selain mendaftar SMA TN, aku juga mendaftar SMA negeri di Bandar Lampung. Sekolahnya Sri Mulyani pas SMA tuh, hehe. Proses pendaftarannya pun juga menuntut kuharus menyambangi sekolah tersebut. Akan tetapi, suatu hari papah ada keperluan sehingga tidak bisa mengantar. Jadilah aku dan mama naik bus antarkota untuk menjangkau ibukota provinsi. Itulah kali pertama mamaku melanglangbuana menaiki satu kendaraan umum ke kendaraan umum lainnya di luar zona nyamannya. Masih kuingat betapa menantangnya medan yang dilalui bus kala perjalanan pulang dari mantan calon sekolahku itu. Bus tua yang tidak ber-AC, medan tempuh yang cukup berlubang dan supir bus yang cekatan menghindari lobang berkolaborasi menjadikan perjalanan pulang kali itu menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhir kalinya aku merasa terombang-ambing di dalam bus. Betapa tidak? Tiap menghindari lubang, pak supir selalu membelokkan setirnya  dengan ekstrem. Aku dan mamah sampai hampir mabuk dibuatnya. Alhamdulillah kami selamat dan aku masih bisa mengetik tulisan ini. Entah apa kabarnya bus itu sekarang. Tetapi aku berterimakasih atas momen tak terlupakan yang ia berikan. Hingga jadi kenangan bagi aku dan mama bahwa kami pernah berpetualang seharian bersama-sama melewati zona nyaman kami yang biasanya selalu menempuh jarak Metro-Bandarlampung dan sebaliknya dengan kendaraan roda empat. Sekaligus jadi penyemangat bagi aku bahwa mereka adalah yang paling semangat mengantarkanku meraih jenjang pendidikan lebih tinggi.

Kembali ke masa sekarang, dimana aku sedang dalam bus menuju kota Metro. Terakhir kali pulang aku masih ingat bagaimana berkecamuknya perasaanku kala itu. Kala pengumuman ranking diterbitkan dan melihat kecilnya peluangku untuk dapat kembali ke daerah, dimana beberapa tahun terakhir tidak banyak putra daerah yang kembali. Kebanyakan kakak tingkat juga menyebar ke seluruh Indonesia. Aku sempat menyinggung hal ini kepada mereka. Aku bilang mungkin aku akan pergi merantau lagi setelah ini. Tetapi mereka selalu meyakinkanku bahwa aku akan kembali ke daerah. Namun aku tidak seyakin itu.

Ya, tujuh tahun sudah aku menjadi anak rantau. Melewati suka duka jauh dari keluarga. Melewati batas aman sembari keluar dari zona nyaman. Aku bersyukur Allah selalu tempatkan aku bersama orang-orang baik, di tempat yang baik. Entah kemana perantauanku ini kembali bermuara. Yang jelas, aku mengharap orang-orang baik di tempat yang baik. Dan bersama-sama melakukan hal-hal baik bersamaku kelak. Aamiin

Form penempatan sudah dikumpulkan. Tinggal menunggu hasil yang Ia pilihkan. Karena Dialah sebaik-baik pemberi tempat. Bukankahbkita memang perantau di muka bumi ini? Yang pada hakikatnya, semua hamparan bumi-Nya jua lah tanah rantauan kita sesungguhnya. Hendak kemana kita kan pulang? Ya, jelas ke pangkuan-Nya. Kapankah kita selesai dengan semua rantauan ini? Kita tidak pernah tau, tetapi kita tentu harus menyiapkan oleh-oleh terbaik dari hasil merantau selama ini bukan?


Akhir kata, selamat mencari oleh-oleh terbaik di tanah rantau yang sesungguhnya. Berlomba-lomba dan bersegeralah karena sebenarnya kita tidak tahu kapan kita akan pulang dan menyelesaikan misi kita di tanah rantau yang sangat luas ini.

You Might Also Like

0 komentar

Entri Populer

Instagram Images

Entri Populer

Subscribe